Ketika keseharian yang melelahkan mulai menghapus cita-cita dan semangat kami, sebuah foto mengingatkan, bahwa ada janji yang masih harus tertunaikan.
Febrie Indonesian Idol Pamerkan Kaos Galgil Kami
Ketika keseharian yang melelahkan mulai menghapus cita-cita dan semangat kami, sebuah foto mengingatkan, bahwa ada janji yang masih harus tertunaikan.
Febrie Indonesian Idol Pamerkan Kaos Galgil Kami
Saya pernah ada pada masa-masa seperti kalian. Saat pertama kali saya jauh dari orang tua. Saat saya mulai berlajar mandiri sepenuhnya. Saat saya hadir di lingkungan baru, yang saya tak tahu apakah tempat ini yang akan menjadi persinggahan berikutnya.
Saya pernah ada pada masa-masa seperti kalian. Saat beban tergantung sangat di pundak. Ketika pilihan setelah SMA ini akan menentukan seperti apa saya pada 5, 10, 15 tahun yang akan datang.
Bagi saya, popularitas itu bonus. Yang paling utama itu ya pemikiran, sikap, dan perbuatan yang dilakukan. Kalau semuanya itu benar, juga dilakukan sesuai proporsinya, popularitas itu akan datang dengan sendirinya.
Jadi, tak perlu tim sukses untuk membangun citra kebaikan atau membentuk empati publik. Atau membuat topeng semu, seolah-olah kita baik dan perhatian. Sia-sia. Kasihan. Energinya habis hanya untuk berkamuflase.
Dan saat popularitas itu datang sebagai bonus, jangan sampai kita terperdaya. Akhirnya kita abai terhadap esensi. Bahwa hidup harus terus menerus diisi dengan kebaikan. Bukan sekali dua kali. Lantas berhenti.
Kalaupun popularitas itu tidak hadir, tak perlu risau. Kebaikanmu tetap tercatat dengan rapi di diari-Nya.
Tinggal beberapa hari lagi, masa itu akan datang. Saya tidak bisa memastikan, bahkan kepada diri saya sendiri, apakah sudah 100% saya siap memasukinya.
Yang saya tahu, saya sudah memilih. Dalam kamus hidup saya, memilih itu artinya sudah siap menanggung semuanya. Pahit manisnya. Baik buruknya. Semuanya.
Semoga Allah memberkahi pilihan ini, memantapkan niat baik ini, dan membukakan pintu-pintu kebaikan atasnya. Aamiin…
“duit yang didapet dari korupsi, keluarnya pasti nggak bener. duitnya cepet habis. siap-siap aja anaknya kena narkoba. keluarganya berantakan”
Saya tersenyum getir mendengar sentilan teman itu. Kalau ditanya ‘apa iya bener begitu?’, saya juga nggak yakin bener. Sekeyakinan saya, apa yang diperoleh dari cara yang nggak bener, hasilnya nggak bakalan diberkahi.
Jadi, teman saya ini ternyata menyentil jauh lebih dalam dari yang saya duga pada awalnya. Bukan hanya tentang saya dan korupsi. Sentilan ini adalah peringatan bagi siapa saja di ranah manapun.
Objek yang diraih bukan hanya uang; ia bisa berwujud kedudukan, jabatan, nilai di sekolah, nilai di kampus, juga penghargaan dan pujian.
Ranahnya tak terbatas di pemerintahan. Sebagai pedagang, dosen, peneliti, pengusaha, atlet, tukang becak, supir beserta bermacam profesi lainnya punya potensi yang sama terjangkiti.
Bahaya ini mengintai di setiap diri kita. Waspada saja tidak cukup. Modal utamanya adalah bersyukur dan qanaah (menerima apa yang kita miliki saat ini). Karena dengan keduanya, kita tahu bahwa yang kita dapat dan yang tidak, ada campur tangan Allah di dalamnya.
Dulu berulang kali pertanyaan serupa terlintas di benak saya: kapan seseorang itu harus menikah?
Fakta empirisnya beragam ternyata. Ada yang menikah pada usia muda, kemudian berhasil dalam mengelola rumah tangganya. Mereka bilang, segeralah menikah, mau tunggu apa lagi?
Sebagian menikah pada usia yang, relatif, matang dan mereka pun berhasil. Kata mereka, disiapkan dulu bekalnya, karena nikah bukan urusan main-main lho.
Yang lebih membingungkan lagi, beberapa yang menikah muda, kemudian keluarganya berantakan, juga tidak sedikit jumlahnya. Yang sudah kenal lama dan akhirnya menikah pada usia yang lebih matang, tidak menjamin juga akan bertahan. Beberapa kolaps dan pisah di tengah jalan setelah menikah.
Hingga suatu waktu, saya mulai memahami. Mungkin keliru. Tapi, nanti pada suatu waktu, hati, jiwa, raga, dan pikiran kita akan mengirimkan sinyal. Pertanda bahwa, ‘ya, inilah waktunya!’ Saya, Anda, atau yang lainnya tidak tahu kapan munculnya. Yang bisa kita lakukan adalah mengusahakan jalan untuk memunculkannya.
Apa definisimu tentang kebahagiaan? Dapat nilai tinggi di kelas? Masuk jurusan dan kampus bergengsi? Berhasil memperoleh beasiswa? Bekerja di kantor besar dengan gaji menggiurkan?
Bagi bapak pemulung dengan gerobaknya yang saya jumpai tadi siang, bahagia itu tersurat jelas saat terik siang, ia minum dari botol bekas air mineral yang entah sudah diisi ulang untuk kesekian kalinya.
Juga ketika malam hari, ia bisa tertidur lelap di dalam gerobaknya, di pinggir jalan, dengan ratusan nyamuk selokan yang mengelilinginya.
Bagiku waktu selalu pagi. Di antara seluruh potongan 24 jam, bagiku pagi adalah waktu terindah. Ketika janji-janji baru muncul seiring embun menggelayut di ujung dedaunan, ketika harapan-harapan baru merekah seiring kabut yang mengambang di pesawahan hingga pegunungan. Pagi, berarti satu hari lagi yang melelahkan telah terlampaui
Tak banyak novel yang pernah saya baca mengesankan. Salah satu novel itu adalah Sunset bersama Rosie. Tere Liye mengemasnya apik. Menguras hati. Tentang kesempatan. Bahwa sekian lama kebersamaan sejak kecil, tak menjamin engkau akan memilikinya.
Tere Liye berhasil mengaduk emosi pembacanya. Sebuah keluarga yang terkoyak dengan empat putri yang kuat. Anggrek yang bijaksana. Sakura yang cerdas. Jasmine yang paling baik hatinya. Dan Lili yang penurut. Semua terangkum dalam kisah cinta yang kompleks, tapi bukan picisan.
Ini juga tentang kebesaran jiwa. Hidup memang keras. Dan tak semua masa lalu selalu indah. Tak perlu kau melupakannya. Karena jelas itu akan menyiksa jiwa dan fisikmu. Berdamailah dengannya. Sulit memang. Tapi, dengan itu, kau akan menjadi lebih merdeka.
Ini juga tentang kehangatan. Bahwa cinta dan kasih terbesar harusnya lahir dari lingkungan keluarga. Dengan kebersamaan keluarga, problem, kesedihan, kekecewaan lebih ringan dijalani.
Melalui novel ini, saya menyadari bahwa orang dewasa seharusnya banyak belajar dari anak kecil. Mencari kekuatan, inspirasi, dan kebahagiaan.
Jadi, silakan menikmati buku ini. Mungkin perspektif Anda berbeda dengan apa yang saya rasakan. Tak mengapa. Justru dari situlah hidup terasa lebih mengasyikkan
Kapan kita khusyuk, serius, sungguh sesungguh-sungguhnya berdoa? Kalau sebulan lagi sudah mau ujian, mungkin. Bisa ujian tengah semester, ujian akhir semester, ujian nasional atau aneka ujian lainnya.
Kapan lagi? Mungkin, kalau jodoh belum datang-datang, padahal usia sudah mepet dan kesiapan kok kayaknya sudah maksimal betul.